Beberapa Tips dalam Sound Mixing
Satu hal yang menjadi masalah dalam produksi musik untuk para pemula dengan menggunakan aplikasi-aplikasi DAW (digital audio workstation) adalah pada tahap MIXING. Mixing merupakan subjek yang sangat dalam, terbukti banyak buku yang membahas tentang cara-cara melakukan mixing.
CATATAN: Ingat Mixing Bukanlah Mastering!!!
Mixing adalah cara untuk menyatukan beberapa audio (hasil multi-track recording)
ke dalam satu wadah audio yang hanya memiliki beberapa channel. Pada
blog ini hanya akan menjelaskan dasar-dasar mixing untuk output stereo (2 Channel).
Seperti
kita ketahui, bahwa dalam satu hasil produksi (atau ambil saja contoh
satu track lagu) di dalamnya terdapat beberapa instrumen (termasuk
vocal), dimana masing-masing instrumen tersebut direkam dalam satu audio
masing-masing. Satu instrumen bisa saja menggunakan 2 channel (direkam
secara stereo), dan yang lainnya direkam secara mono, bila kita
menggabungkannya langsung tanpa melakukan mixing, hasil yang akan kita
dengan adalah kekacauan. Hal ini disebabkan oleh daya tampung output
yang tidak memadai dengan input audio yang dimasukkan. Kita ambil contoh
nyata, bila kita memiliki 5 gayung air, dan memasukkan semuanya ke
dalam 1 gayung. Apa yang akan terjadi??
Dengan melakukan mixing, kita tidak perlu khawatir dengan hal tersebut, karena kita dapat mengatur berapa besar db (atau volume) suatu instrumen yang akan dimasukan, dan mengatur equalizer dari suatu instrumen tersebut.
Mixing sangat erat hubungannya dengan EQ (Equalizing)
frekuensi, sehingga minimal kita tahu terlebih dahulu bagaimana suara
pada frekuensi rendah dan bagaimana suara pada frekuensi tinggi. Selain EQ, faktor yang menentukan kualitas hasil mixing adalah Balancing (Keseimbangan) antara channel 1 dan 2 (Kiri dan Kanan).
OK, jadi apa tujuan mixing?... Coba tanya pada produser-produser musik, pasti kita mendapatkan banyak jawaban yang saling berbeda, tapi pada intinya "Mixing adalah cara menyatukan beberapa audio agar dapat diputar dengan baik dan enak untuk di dengar".
Banyak para pemula berfikir tentang mixing seperti ini "Bila saya ingin membuat suaranya sangat nge-bass dan keras, maka saya naikkan frekuensi rendahnya sebanyak mungkin",
Sayangnya dunia ini tidak berjalan dengan semudah itu, dengan pemikiran
seperti ini kita hanya akan mendapatkan hasil audio yang hancur dan
tidak enak didengar, dan tidak mustahil hasil audio tersebut malah
menjadi sangat sunyi dan susah untuk disimak.
Untuk meng-efektifkan hasil EQ, kita harus tahu pada frekuensi apa instrumen tersebut bagus untuk disimpan. Kadang kita justru mengecilkan "frekuensi khas" suatu instrumen yang dimaksud karena ingin mencapai suara global yang kita inginkan, dan hasilnya tetap berantakan.
Berikut adalah beberapa tips EQ dalam Mixing:
- Kurangi frekuensi yang tidak diperlukan, bila ingin membuat suatu frekuensi lebih terdengar ( Jangan boost/naikkan frekuensi yang ingin diperbesar ).
- Hindari pengurangan frekuensi khas suatu instrumen, bila akan memperkecil suara instrument, perkecil pada master volume instrumen tersebut.
- Jangan pernah berfikir karena bass memiliki frekuensi yang rendah, maka kita menurunkan semua frekuensi tinggi pada instrumen ini, karena justru suara khas instrumen tersebut bisa saja berada pada frekuensi tinggi, begitu juga pada instrument yang kita anggap memiliki frekuensi tinggi.
- Biasakan untuk mendengar hasil output dalam mono, baru kemudian dengarkan dalam stereo.
- Bila kita melakukan mixing pada malam hari (Begadang), jangan lupa untuk mendengarkannya lagi pada pagi hari selepas kita bangun dari tidur. Kita mungkin akan mengalami hal yang tidak terduga (Lho, semalam kok hasilnya bagus banget, tapi sekarang ancuuurrrr!!!).
- Biasakan mendengarkan solo instrument (mute yang lain) ketika mendengarkan track secara keseluruhan, bandingkan apakah instrumen tersebut terdengar ketika kita menjalankannya dengan instrumen lain??.
- Gunakan Headset pada waktu mixing untuk hasil yang lebih baik sebelum mendengarkannya pada speaker.
- Latih pendengaran.
Jadi Apa yang harus Kita lakukan??
Pertama-tama kita harus mengatur semua volume instrumen yang akan di mixing "sama rata" dan kecil, lalu kita mulai dengan beberapa formula contoh berikut ini:
Kick Drums (Bass Drums)
Kick
Drums merupakan heartbeat yang membuat suatu musik terkesan lebih
ber-ritme. Kick Drums memiliki suara khas yang ngebass tapi juga
memiliki klik (suara tick). Cara terbaik mixing instrumen ini adalah
dengan mengurangi frekuensi medium dari instrumen ini, sehingga bass dan
suara klik lebih kental terasanya. Saya sarankan untuk menambah 2
sampai 4db pada 350hz-450hz, mengurangi frekuensi lainnya, dan
menambahkan 2db pada 2khz-3khz untuk memperkental suara klik.
Snare
Seperti
Kick Drums, Snare juga berperan dalam ritme suatu musik. EQ yang
asal-asalan membuat suara Snare menjadi sangat tipis. Cara terbaik
mixing instrumen ini adalah dengan menambah 2-3dB pada "sekitar"
frekuensi 80hz, kecilkan 2-3dB antara 350-450hz. Untuk menambah cerahnya
suara instrumen ini jangan lupa menambah 1-2dB pada 5khz. Jangan lupa
menambahkan kompresi dengan attack sekitar 2ms, dan release sekitar
11ms. Bila perlu tambahkan sedikit reverb tapi jangan berlebihan.
Hi-Hat
Ketika
cymbal lebih berperan pada bang atau pemisah bar, hi-hat lebih berperan
pada ritme tempo. Pastikan suaranya lebih jernih tanpa menjadikannya
sangat keras (Jangan seperti Kick & Snare). Cara terbaik mixing
instrumen ini adalah dengan mematikan frekuensi di bawah 200hz dan
menaikkan 1-3dB antara 6khz dan 8khz, gunakan telinga untuk merasakan
hasilnya (cara terbaik pada waktu mixing
).
Low (Floor) Tom
Mixing
yang baik dapat membuat perbedaan antara drums fill dan drums solo
tanpa perbedaan yang mencolok pada pendengaran. Cara terbaik mixing
instrumen ini adalah mengurangi sekitar 12db sekitar 500hz, menambah
4-6dB sekitar 3khz, jangan lupa tambahkan kompresi dengan rasio 4.5:1,
attack yang lebih lambat 120ms, dan release 90ms.
High (Rack) Tom
Seperti
halnya Low Tom tapi High Tom memiliki frekuensinya sendiri, Cara
terbaik mixing instrumen ini adalah mengurangi 10dB pada 600hz, menambah
7dB sekitar 2khz, dan kompresi dengan rasio 6:1, attack yang lebih
cepat dari pada Low Tom yaitu sekitar 100ms, dan release yang sangat
cepat sekitar 25ms.
Overheads
Overheads
menampung dua audio, yaitu yang dihasilkan cymbals dan suara-suara khas
dari instrumen drums lainnya (misalnya resonansi suara pedal bass drum,
suara stick drums yang mengenai logam pada drums, sampai suara
resonansi ruangan, dll). Cara terbaik mixing instrumen ini adalah dengan
mematikan frekuensi dibawah 40hz, menambah 5dB sekitar 100 dan 200hz,
jika dibutuhkan tambah 1-2db pada 5khz untuk menambah kecerahan suara.
Untuk kompresi, set dengan rasio 3:1, attack 110ms, dan release 70ms.
Vocal
Vocal
merupakan audio yang selalu dimixing terdepan, yang tingkat
terdengarnya sangat tinggi, tapi bukan berarti vocal ini harus menutupi
instrumen lainnya. Cobalah bermain pada frekuensi 120hz dan 200 sampai
240Hz, naikkan beberapa db pada 5khz untuk meningkatkan presence, dan
jangan lupa juga pada 7.5 sampai 10khz untuk menampilkan suara khas
suatu vocal. Gunakan telinga untuk mengamati mixing yang terbaik.
Guitar
Guitar
biasanya akan menutupi kehadiran vocal bila tidak di mixing dengan
baik, untuk menghindari hal tersebut, turunkan atau matikan frekuensi
1khz dan 5khz, tambah sedikit pada 100hz dan 250hz, juga antara 10khz
dan 12khz, jangan lupa untuk bermain pada frekuensi 240hz, 2.5khz dan
8khz untuk membuat suanyanya lebih berisi. Untuk guitar akustik jangan
lupa bermain pada 2khz, 120 sampai 200hz, dan mengurangi atau mematikan
7khz sampai 10khz. Sekali lagi, peranan telinga sangat penting dalam
melakukan mixing instrumen ini.
Bass
Bass
merupakan instrumen penting untuk menyatukan instrumen menjadi lebih
erat, secara tidak langsung juga mempengaruhi perasaan pada ritme musik.
Bermainlah pada frekuensi 60 sampai 80hz, tambah beberapa db pada 700hz
sampai 1000hz, jangan lupa untuk menambah beberapa db pada 2.5khz,
Ingat Bass bukan berarti semuanya frekuensi rendah, jangan menambah
terlalu banyak frekuensi rendah pada instrumen ini, karena hanya akan
mengakibatkan hasil suara yang muddy (berdengung) dan terkesan kecil.
Dan
selalu di ingat untuk melatih telinga kita ketika melakukan mixing,
karena hasil mixing kita sangat dipengaruhi juga oleh pengalaman dan
latihan, bukan tidak mungkin hasil mixing yang asalnya sangat "ancur"
bisa lebih "ancur" lagi dengan latihan yang tertur.. hehehe (Maksudnya
bisa lebih baik lagi).
CATATAN:
Nilai-nilai EQ di atas bukan hal yang mutlak, tapi hanya sebagai acuan
bahwa satu instrumen yang kita kira hanya bersandar pada satu frekuensi
tertentu, ternyata memiliki beberapa frekuensi khas yang membuat
instrumen tersebut lebih enak di dengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar